SELAMAT DATANG

Semoga anda tidak merasa bosan mengunjungi Blog saya

Kamis, 11 Maret 2010

PETA GERAKAN MAHASISWA DALAM EUPHORIA REFORMASI

Oleh : Muhammad Syahudin

Mahasiswa adalah sebuah symbol yang melekat kepada suatu komunitas ilmiah dan memiliki basis intelektual. Karena potensi yang begitu dahsyat maka dilengketkanlah sebuah tanggungjawab moral yang secara de facto kemudian menjadi sebuah indicator terciptanya sebuah system atau nilai baru dalam kehidupan masyarakat. Sejarah panjang Indonesia telah membuktikan betapa mahasiswa merupakan sebuah kekuatan politik tersendiri yang secara proaktif mampu memberikan sebuah nilai tawar bagi sebuah harga diri manusia dan Negara

Situasi politik yang suhunya tak begitu bersahabat dengan mahasiswa juga mempengaruhi etape-etape dan taktik gerakan mahasiswa. Realitas historis menggambarkan kondisi Negara dalam beberapa babakan sejarah, diantaranya :

A. Periode Orde Lama

Pada masa sebelum orde lama, mahasiswa yang belajar di luar negeri kemudian membentuk sebuah komunitas gerakan Boedi Oetomo dan organisasi-organisasi lainnya. Gerakan mahasiswa pada masa ini lebih banyak berorientasi kepada melepaskan diri dari imprelisme militer Negara-negara adikuasa. Para mahasiswa pada masa tersebut telah memiliki hubungan khusus dengan militer, dimana mereka turut mengangkat senjata dan berjuang secara fisik untuk mengusir penjajah.

Pada masa Orde lama di bawah kepemimpinan bung karno, Indonesia berada dalam tekanan yang sangat kuat dari luar negeri, berbagai kekuatan politik pun bermunculan seiring dengan fase-fase dimana Indonesia baru mencari bentuk ideology Negara. NASAKOM adalah slogan bung karno untuk menyatukan tiga kekuatan politik pada saat itu yang merupakan refresentasi dari Nasionalisme,agama dan Komunis. Berbagai organisasi kemahasiswaan pun ikut bermunculan dengan afiliasi masing-masing kepada ketiga kekuatan politik Negara. Hingga tahun 1966 pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia, mahasiswa pun turun ke jalan untuk berdemondtrasi menurunkan bung karno, tradisi keakraban Mahasiswa dan militer pun berlanjut, di jalan-jalan tampak sangat kontras betapa kekuatan militer (TNI) membackup setiap gerakan mahasiswa termasuk saat pembubaran PKI.

Akan tetapi, ketika Indonesia memasuki transisi periodesasi kepemimpinan, maka disinilah sudah mulai adanya indikasi retaknya sebuah system nilai dalam tubuh mahaisiwa.

B. Periode Orde Baru

Periode Orde Baru adalah sebuah masa dimana mahasiswa mengalami penindasan intelektual dan gerakan politis, sehingga mahasiswa seakan seperti mandul dan terkesan kehilangan taring kejantanannya. Belajar dari realitas ORLA, penguasa orde Baru memahami betul bahwa mahaiswa adalah sebuah kekuatan yang mampu mendongkrak dan membobol status Quo, sehingga untuk mengantisipasinya maka diberlakukanlah pemaksaan dengan jargon kesatuan dan persatuan bangsa berupa sebuah doktrin ideologis (Azas Tunggal). Di samping itu di kampus-kampus diterapkan system perkuliahan SKS dengan warna NKK/BKK yang menyebabkan mahasiswa hanya berfikir pragmatis. Sehingga komunikasi mahaiswa dengan masyarakat menjadi terputus, apalagi demokrasi dan kebebasan untuk berbicara dianggap melanggar hukum.

Walaupun demikian cikal bakal sikap perlawanan dari komunitas mahasiswa mulai bersemi, hal ini disebabkan oleh beberapa factor yang sangat menglobal pada setiap Mahasiswa baik secara individu maupun secara institusi (intra dan ekstra kampus). Maraknya kelompok-kelompok diskusi, komunitas mahasiswa kritis dan kepekaan terhadap realitas yang langsung bersentuhan dengan Mahasiswa itu sendiri.

Perkembangan wacana perubahan marak dikalangan mahasiswa, sehingga tatkala mencapai puncak klimaks gelombang arus reformasi pun tak terbendung. Maka terjadilah tragedy 1998 berduka. Duka mahasiswa karena harus mengorbankan beberapa kematian Mahasiswa walau Presiden Soeharto berhasil digulingkan, ditingkat elite politik pun turut berduka akibat lengsernya Soeharto sambil berbenah diri untuk mencari peluang politis dan oknum-oknum tertentu yang mencoba “cuci tangan” meski pada masa ORBA adalah penjilat kelas kakap.

C. Periode Reformasi

Setelah merilis masa lalu gerakan mahasiswa secara singkat, secara factual sangat berpengaruh terhadap perkembangan perpolitikan Nasional, yang kemudian Indonesia mengalami sebuah reformasi yang dalam bahasa Darwin adalah Evolusi. Reformasi (Evolusi) yang digerakkan oleh komunitas Mahasiswa membawa tiga tuntutan yang secara radikal dipraksiskan oleh Mahasiswa di seluruh Indonesia, ketiga tuntutan tersebut adalah :

Ø Adili Soeharto

Ø Tolak SI (Sidang Istimewa)

Ø Cabut Dwi Fungsi ABRI

(Sumber : TEMPO, 09 November 1998)

Dari ketiga tuntutan moral tersebut sangatlah bersifat reaksioner berdasarkan kondisi Negara. Meski reformasi pada tahun 1998 terkesan hanya tambal sulam system namun implikasinya cukup menggema dan membawa warna baru dalam kemahasiswaan dalam perannya sebagai social control.

Euphoria reformasi inilah yang kemudian menyebabkan gerakan Mahasiswa semakin mengalami degradasi nilai sehingga menjadikan gerakan Mahasiswa terpeta-petakan dalam kepentingan sehingga terkadang antara komunitas Mahasiswa yang satu dengan lainnya saling bentrok dan lebih menarik aksi-aksi Mahasiswa ternyata menjadi sebuah ajang bisnis yang menggiurkan.

Pertanyaan yang muncul adalah, ada apa dengan gerakan Mahasiswa ?

Untuk mendiagnosa pertanyaan tersebut, kita harus melihat realitas Mahasiswa secara Universal. Realitas Mahasiswa di petakan sebagai berikut :

a. Mahasiswa Akademik

Tipologi Mahasiswa seperti ini secara personal lebih dominan memburu gelar akademik semata, sehingga kepekaan social pun sulit untuk dimiliki apalagi untuk mendiagnosa problem social, model Mahasiswa akademik sangat akumulatif dan cenderung individualis

b. Mahasiswa Fungsionaris /Aktivis

Komunitas Mahasiswa ini biasa disebut kelompok Altruist yang oreintasi gerakannya mengedepankan kepentingan social kemasyarakatan termasuk kondisi penindasan “Kampus”. Motivasi lain adalah keinginan dan semangat untuk berperan aktif dalam kegiatan ekstra kampus dan terlibat dalam kegiatan –kegiatan aksi-aksi social.

c. Mahasiswa Apatis

Model mahasiswa yang satu ini justru lebih aneh, sebab tidak memiliki kemampuan ilmu yang dominan sekaligus juga bukan aktivis, sehingga yang muncul adalah menjadi Mahasiswa yang pesimis dan pragmatis.

d. Mahasiswa Hedon

Corak mahasiswa yang satu ini, lebih aneh lagi. Dunia mahasiswa difahami untuk mendapatkan semua kesenangan material. Biasanya penampilan yang lebih ditonjolkan dengan gaya hidup bebas dan terkesan tidak memiliki orientasi hidup yang jelas.

Lalu bagaimana sebenarnya yang harus dilakukan Mahasiswa, hal tersebut hendaklah di coba untuk dianalisis dalam peta karakteristik mahasiswa, karakteristik Mahasiswa seharusnya :

a. Mengedepankan nilai-nilai yang obyektif dalam sebuah realitas, bukan subyektifitas apriori yang emosional

b. Memiliki sifat kritis terhadap realitas serta responsibility menuju aksi gerakan

c. Memiliki paradigm idealis yaitu menempatkan sesuatu secara proporsional dan bijaksana

d. Menjadikan identitas kemahasiswaan dalam pressure group

Setelah menganalisis realitas dan karakteristik Mahasiswa, kemudian dikomparasikan dalam realitas euphoria reformasi yang ternyata justru semakin melemahkan gerakannya, seolah-olah suara Mahasiswa yang lantang sekarang disambut oleh buaian reformasi.

Dalam era reformasi suara parau Mahasiswa mulai melemah, hal ini disebabkan jargon-jargon kekuatan dalam era reformasi telah dipengaruhi oleh peta gerakan sebagai berikut :

1. Jargon Nasionalisme

Gerakan dengan pola jargon-jargon Nasionalisme sangat berwarna keamanan, yaitu menciptakan dan membangkitkan kembali semangat kebangsaan, walaupun secara realitas justru menciptakan situasi yang tidak aman.

2. Jargon kerakyatan

Jargon ini sangat menarik sebab membawa symbol-simbol rakyat sehingga pressure gerakan dengan mengangkat masalah-masalah kerakyatan seperti penindasan hak, eksploitasi buruh dsb. Komunitas yang mengawal jargon inilah yang kemudian diklaim sebagai kiri barunya sosialisme yang di Indonesia dianggap komunisme dan harus di musnahkan

3. Jargon Agama

Sebagaimana maklum bahwa Indonesia sebagai Negara yang kuantitasnya adalah beragama. Dan ternyata Mahasiswa yang beridentitas agamawan tersebut memakai jargon agama dalam pola gerakannya

Dengan terpetakannya gerakan mahasiswa ini kemudian berpengaruh terhadap pola gerakan yang dilakukan oleh setiap komunitas dan setelah itu terjadi maka penyikapan terhadap realitas pun beragam. Misalnya, diantara komunitas gerakan mahasiswa dalam memformat gerakannya dengan model defensive atau bertahan dalam kelompoknya sendiri dan membangun gerakannya sendiri tanpa mau berkoalisi dengan komunitas yang lain sehingga model gerakan yang muncul justru cenderung ekslusif dan sectarian. Dan ada juga koalisi gerakan yang terdiri dari berbagai komunitas dengan model gerakan opensif yang lebih mengutamakan keseragaman wacana dengan menepis perbedaan dan membangun semangat inklusifitas dan mungkin dapat disebut parenialisme gerakan.

Dari kedua model penyikapan terhadap peta gerakan mahasiswa tersebut maka saya menginginkan agar perlu adannya reorientasi wacana dan evaluasi gerakan reformasi, hal ini sangat mendesak mengingat agenda reformasi tidak berjalan mulus di samping munculnya fenomena-fenomena baru menuntut untuk segera disikapi . oleh karena itu sangatlah penting untuk melakukan kolaborasi gerakan yang variatif dan menyentuh langsung pada masyarakat yang dalam strata social paling banyak dirugikan.

Disamping itu, ada suatu problem internal mahasiswa yang harus segera di konstruksi mengingat semakin terdegradasinya generasi mahasiswa yang kritis dan radikal. Jadi, agenda awal yang harus disikapi adalah back to campus dalam artian melakukan pembenahan internal basis gerakan yang ditinggalkan oleh aktivis gerakan.

EMPAT FIGUR DALAM PILKADA

Muh. Syahudin, S.Pd.I

(Pemerhati Masalah Sosial politik)

Ali Syari’ati pernah berkata bahwa ada empat figur yang menyebabkan berdirinya sistem kezaliman sepanjang zaman , empat figur tersebut masing-masing di wakili oleh FIR’AUN sebagai tonggak simbolisasi kekuasaan absolute, HAMANN sebagai sosok intelektual bourjuis, QARUN sebagai visualisasi kapitalisme, dan BAL’AM bin Baura yang mewakili kelompok agamawan yang menjual ayat-ayat agama demi kepentingan pragmatis. Sepenjang sejarah manusia empat figure tersebut senantiasa berlawanan dengan keadilan, keempat figur tersebut tampil dengan perwajahan yang baru dan dengan pola yang baru, tetapi dengan motif yang sama yaitu kekuasaan, kekayaan dan kepentingan sesaat. Kalaupun kita mendengar idiom-idiom keberpihakan terhadap rakyat, maka yakinlah itu hanyalah slogan-slogan yang digunakan untuk merefresentasikan apa yang ingin di capai.

Dalam hingar bingar demokrasi di Indonesia hari ini, setiap orang tidak terlepas dari kepentingan, hanya saja bagaimana kepentingan ini dipertaruhkan dengan realitasnya, tentulah sangat ditentukan oleh motif apa yang melandasinya. Sejak arus reformasi menggeliat di bumi Indonesia kita baru belajar mengartikan sistem demokrasi dalam sistem pemilihan langsung dengan berbagai macam perangkat undang-undangnya, tapi kenyataannya kita belum dapat mengatakan bahwa efek dari pemilihan langsung itu cukup berarti bagi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat menjadi berarti ketika pemilihan akan berlangsung, dimana setiap perangkat dan slogan untuk menarik minat dukungan masyarakat bertebaran dimana-mana, bahkan masyarakat sendiri tidak terlalu mempersoalkan apa sebenarnya yang ada dalam benak para kandidat, yang ada dalam harapan masyarakat secara sederhana adalah bagaimana kehidupan mereka bisa meningkat. Sederhananya adalah apakah mesti berkuasa menjadi syarat berbuat untuk masyarakat. Kita tahu jawabannya tentu tidak, tetapi mengapa kekuasaan begitu berarti bagi segelintir orang hari ini.

Kalau kita melihat fenomena yang terjadi dalam pilkada, kita dapat kembali mengingat empat figur yang digambarkan oleh Ali Syari’ati. figur fir’aun tampil dengan perwajahannya bila setiap orang yang terlibat dalam proses pilkada hanyalah orang-orang yang haus akan kekuasaan semata, baginya kekuasaan adalah kesenangan belaka. Ia menganggap tidak begitu penting apakah benar rakyat mendukungnya dengan sepenuh hati yang penting ia dapat terpilih menjadi penguasa, maka apapun caranya harus di tempuh. Padahal kita mengetahui secara bersama-sama bahwa dalam pilkada ada aturan-aturan yang mengikat, akan tetapi bukankah setiap aturan senantiasa memiliki celah yang bisa di manfaatkan. Aspek moralitas seorang pemimpin tidak begitu penting baginya, ia lebih mengutamakan kemenangan daripada tegaknya keadilan, tengoklah dalam berita media elektronik dan media cetak, di beberapa daerah yang menyelenggarakn pilkada, kita menyaksikan pilkada bukan lagi menjadi media bagi masyarakat untuk memilih pemimpinnya secara damai, tetapi pilkada telah berubah menjadi media baru bagi konflik sosial. Bukankah lebih baik menjadikan media pilkada sebagai sebuah jalan bagi setiap kita untuk berkhidmat bagi kemanusiaan. Kalah dan menang mestinya menjadi ujian bagi kita, ujian dalam artian jika menang maka tanggung jawab yang begitu besar adalah sesuatu yang kita harus pertanggungjawabkan kepada masyarakat dalam memikulnya, dan kalau kalah tidak kemudian tugas kemanusiaan itu menguap setelah hingar bingar pilkada berakhir.

Dalam Islam suara yang buruk dinisbahkan kepada suara keledai, mengapa suara keledai adalah suara yang buruk, karena ia nanti bersuara kalau lagi lapar. Perwajahan ini sangat terasa pada figur Hamann, yang biasanya “berteriak” mengkritik apa saja dan siapa saja demi memenuhi perutnya. Hari ini figur Hamann tampil dengan wajah “aktifis” dengan berbagai macam bentuk dan varian-variannya, ia akan tampil untuk berbicara bila yang dibicarakan itu menguntungkannya, tapi ia diam bila keinginannya telah terpenuhi walaupun ia sadar telah terjadi ketimpangan dan ketidakadilan, ia akan melakukan perlawanan kalau “makanannya” di ganggu tapi ia akan bungkam bila hak-hak orang lain diambil, ia tidak berbuat apa-apa menyaksikan penguasa berbuat zalim. Lalu ia menjadi orang yang tidak berarti apa-apa ketika sudah menduduki jabatan tertentu. Dari cerita Hamann kita pantas untuk curiga kepada setiap orang yang yang bersuara lantang dalam pilkada, karena kita tidak tahu mengapa ia bersuara, apakah yang keluar itu suara hati nurani ataukah suara keledai.

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberikan kelebihan hartanya dan menahan kelebihan pembicaraannya begitulah nasehat Nabi Muhammad Saw kepada kita. Tetapi nasehat itu kita balik, banyak diantara kita yang tidak bisa menahan pembicaraannya walaupun pembicaraan itu sama sekali tidak ada manfaatnya baik bagi kita maupun bagi orang lain. Malah sebaliknya kelebihan harta yang kita miliki kita timbun dan tumpuk setiap hari untuk memenuhi segala sesuatu demi kepuasan semata. Kalaupun ada yang memberi atau yang membagi-bagikan hartanya bukanlah sesuatu yang tampa pamrih, harta yang dikeluarkan adalah modal yang harus kembali dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Begitulah sosok Qarun menampilkan wajahnya dalam masyarakat. Momen pilkada adalah momen yang begitu penting bagi Qarun-Qarun modern untuk meraup keuntungan. Kita mengenal di belakang para kandidat ada dukungan partai politik parlement maupun non parlement dan kita juga mendengar bahwa dalam dukungan tersebut ada istilah yang digunakan yaitu “kontrak politik”. Tapi kita tidak benar-benar tahu kontrak apa yang dimaksud. Apakah kontrak tersebut adalah kontrak untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat ataukah kontrak tersebut adalah kontrak untuk meningkatkan taraf ekonomi para politisi. Yang pasti telah bermunculan Qarun-Qarun modern.

Dari fenomena pilkada Kita kemudian menjadi bingung, untuk memilih siapa yang akan menjadi pemimpin kita, karena siapapun yang terpilih tetaplah hanya menguntungkan kelompok tertentu saja. Tetapi jangan khawatir, pada saat seperti inilah tampil sosok Bal’am bin Baura yang memiliki alat justifikasi untuk menghilangkan kebingungan masyarakat. Bal’am bin Baura sebagaimana yang digambarkan oleh ali Syari’ati adalah sosok agamawan yang “mengkampanyekan” ayat-ayat Tuhan untuk dijadikan slogan-slogan mendukung pasangan tertentu. Dengarlah hari ini, di beberapa tempat kita mendengarkan ayat-ayat Tuhan ditafsirkan dengan gampangan tanpa jelas sumber rujukan tafsirnya, dan lebih fatal lagi bila ayat-ayat Tuhan tersebut di sandarkan kepada figur-figur tertentu.

Benarlah apa yang di katakan oleh Naga Bonar (dalam film Nagabonar jadi dua) : “Salahku Hidup di zamanmu, zaman yang tidak pernah bisa kumengerti”. Sebagai mana Naga Bonar kita pun mungkin akan berkata : “salahku karena hidup di era Pilkada, era yang sulit untuk dimengerti”.