SELAMAT DATANG

Semoga anda tidak merasa bosan mengunjungi Blog saya

Kamis, 11 Maret 2010

EMPAT FIGUR DALAM PILKADA

Muh. Syahudin, S.Pd.I

(Pemerhati Masalah Sosial politik)

Ali Syari’ati pernah berkata bahwa ada empat figur yang menyebabkan berdirinya sistem kezaliman sepanjang zaman , empat figur tersebut masing-masing di wakili oleh FIR’AUN sebagai tonggak simbolisasi kekuasaan absolute, HAMANN sebagai sosok intelektual bourjuis, QARUN sebagai visualisasi kapitalisme, dan BAL’AM bin Baura yang mewakili kelompok agamawan yang menjual ayat-ayat agama demi kepentingan pragmatis. Sepenjang sejarah manusia empat figure tersebut senantiasa berlawanan dengan keadilan, keempat figur tersebut tampil dengan perwajahan yang baru dan dengan pola yang baru, tetapi dengan motif yang sama yaitu kekuasaan, kekayaan dan kepentingan sesaat. Kalaupun kita mendengar idiom-idiom keberpihakan terhadap rakyat, maka yakinlah itu hanyalah slogan-slogan yang digunakan untuk merefresentasikan apa yang ingin di capai.

Dalam hingar bingar demokrasi di Indonesia hari ini, setiap orang tidak terlepas dari kepentingan, hanya saja bagaimana kepentingan ini dipertaruhkan dengan realitasnya, tentulah sangat ditentukan oleh motif apa yang melandasinya. Sejak arus reformasi menggeliat di bumi Indonesia kita baru belajar mengartikan sistem demokrasi dalam sistem pemilihan langsung dengan berbagai macam perangkat undang-undangnya, tapi kenyataannya kita belum dapat mengatakan bahwa efek dari pemilihan langsung itu cukup berarti bagi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat menjadi berarti ketika pemilihan akan berlangsung, dimana setiap perangkat dan slogan untuk menarik minat dukungan masyarakat bertebaran dimana-mana, bahkan masyarakat sendiri tidak terlalu mempersoalkan apa sebenarnya yang ada dalam benak para kandidat, yang ada dalam harapan masyarakat secara sederhana adalah bagaimana kehidupan mereka bisa meningkat. Sederhananya adalah apakah mesti berkuasa menjadi syarat berbuat untuk masyarakat. Kita tahu jawabannya tentu tidak, tetapi mengapa kekuasaan begitu berarti bagi segelintir orang hari ini.

Kalau kita melihat fenomena yang terjadi dalam pilkada, kita dapat kembali mengingat empat figur yang digambarkan oleh Ali Syari’ati. figur fir’aun tampil dengan perwajahannya bila setiap orang yang terlibat dalam proses pilkada hanyalah orang-orang yang haus akan kekuasaan semata, baginya kekuasaan adalah kesenangan belaka. Ia menganggap tidak begitu penting apakah benar rakyat mendukungnya dengan sepenuh hati yang penting ia dapat terpilih menjadi penguasa, maka apapun caranya harus di tempuh. Padahal kita mengetahui secara bersama-sama bahwa dalam pilkada ada aturan-aturan yang mengikat, akan tetapi bukankah setiap aturan senantiasa memiliki celah yang bisa di manfaatkan. Aspek moralitas seorang pemimpin tidak begitu penting baginya, ia lebih mengutamakan kemenangan daripada tegaknya keadilan, tengoklah dalam berita media elektronik dan media cetak, di beberapa daerah yang menyelenggarakn pilkada, kita menyaksikan pilkada bukan lagi menjadi media bagi masyarakat untuk memilih pemimpinnya secara damai, tetapi pilkada telah berubah menjadi media baru bagi konflik sosial. Bukankah lebih baik menjadikan media pilkada sebagai sebuah jalan bagi setiap kita untuk berkhidmat bagi kemanusiaan. Kalah dan menang mestinya menjadi ujian bagi kita, ujian dalam artian jika menang maka tanggung jawab yang begitu besar adalah sesuatu yang kita harus pertanggungjawabkan kepada masyarakat dalam memikulnya, dan kalau kalah tidak kemudian tugas kemanusiaan itu menguap setelah hingar bingar pilkada berakhir.

Dalam Islam suara yang buruk dinisbahkan kepada suara keledai, mengapa suara keledai adalah suara yang buruk, karena ia nanti bersuara kalau lagi lapar. Perwajahan ini sangat terasa pada figur Hamann, yang biasanya “berteriak” mengkritik apa saja dan siapa saja demi memenuhi perutnya. Hari ini figur Hamann tampil dengan wajah “aktifis” dengan berbagai macam bentuk dan varian-variannya, ia akan tampil untuk berbicara bila yang dibicarakan itu menguntungkannya, tapi ia diam bila keinginannya telah terpenuhi walaupun ia sadar telah terjadi ketimpangan dan ketidakadilan, ia akan melakukan perlawanan kalau “makanannya” di ganggu tapi ia akan bungkam bila hak-hak orang lain diambil, ia tidak berbuat apa-apa menyaksikan penguasa berbuat zalim. Lalu ia menjadi orang yang tidak berarti apa-apa ketika sudah menduduki jabatan tertentu. Dari cerita Hamann kita pantas untuk curiga kepada setiap orang yang yang bersuara lantang dalam pilkada, karena kita tidak tahu mengapa ia bersuara, apakah yang keluar itu suara hati nurani ataukah suara keledai.

Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberikan kelebihan hartanya dan menahan kelebihan pembicaraannya begitulah nasehat Nabi Muhammad Saw kepada kita. Tetapi nasehat itu kita balik, banyak diantara kita yang tidak bisa menahan pembicaraannya walaupun pembicaraan itu sama sekali tidak ada manfaatnya baik bagi kita maupun bagi orang lain. Malah sebaliknya kelebihan harta yang kita miliki kita timbun dan tumpuk setiap hari untuk memenuhi segala sesuatu demi kepuasan semata. Kalaupun ada yang memberi atau yang membagi-bagikan hartanya bukanlah sesuatu yang tampa pamrih, harta yang dikeluarkan adalah modal yang harus kembali dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Begitulah sosok Qarun menampilkan wajahnya dalam masyarakat. Momen pilkada adalah momen yang begitu penting bagi Qarun-Qarun modern untuk meraup keuntungan. Kita mengenal di belakang para kandidat ada dukungan partai politik parlement maupun non parlement dan kita juga mendengar bahwa dalam dukungan tersebut ada istilah yang digunakan yaitu “kontrak politik”. Tapi kita tidak benar-benar tahu kontrak apa yang dimaksud. Apakah kontrak tersebut adalah kontrak untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat ataukah kontrak tersebut adalah kontrak untuk meningkatkan taraf ekonomi para politisi. Yang pasti telah bermunculan Qarun-Qarun modern.

Dari fenomena pilkada Kita kemudian menjadi bingung, untuk memilih siapa yang akan menjadi pemimpin kita, karena siapapun yang terpilih tetaplah hanya menguntungkan kelompok tertentu saja. Tetapi jangan khawatir, pada saat seperti inilah tampil sosok Bal’am bin Baura yang memiliki alat justifikasi untuk menghilangkan kebingungan masyarakat. Bal’am bin Baura sebagaimana yang digambarkan oleh ali Syari’ati adalah sosok agamawan yang “mengkampanyekan” ayat-ayat Tuhan untuk dijadikan slogan-slogan mendukung pasangan tertentu. Dengarlah hari ini, di beberapa tempat kita mendengarkan ayat-ayat Tuhan ditafsirkan dengan gampangan tanpa jelas sumber rujukan tafsirnya, dan lebih fatal lagi bila ayat-ayat Tuhan tersebut di sandarkan kepada figur-figur tertentu.

Benarlah apa yang di katakan oleh Naga Bonar (dalam film Nagabonar jadi dua) : “Salahku Hidup di zamanmu, zaman yang tidak pernah bisa kumengerti”. Sebagai mana Naga Bonar kita pun mungkin akan berkata : “salahku karena hidup di era Pilkada, era yang sulit untuk dimengerti”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar